Tampilkan postingan dengan label Kapal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kapal. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Maret 2011

Sejumlah Negara Menjajaki Kemungkinan Pembelian dengan Kredit Ekspor Persenjataan

Kredit Ekspor Persenjataan

Jakarta, Kompas - Sejumlah negara tetangga, seperti Papua Niugini, Filipina, dan Brunei, menjajaki kemungkinan pembelian persenjataan serta memperoleh kredit ekspor dari Pemerintah Republik Indonesia.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro yang ditemui di Jakarta, Kamis (24/3), menjelaskan, pihaknya telah mendapatkan banyak permintaan untuk memenuhi kebutuhan persenjataan dari sejumlah negara tetangga dalam Jakarta International Defense Dialogue (JIDD).

Timor Leste
”Timor Leste sudah mendapat kredit ekspor 40 juta dollar AS untuk pembelian dua kapal patroli cepat (fast patrol boat/FPB), ternyata sejumlah negara juga mempertanyakan kemungkinan mendapat fasilitas serupa,” ujar Purnomo.

FPB yang dibuat PT PAL Surabaya itu memiliki dimensi panjang dari 15 meter, 30 meter, 40 meter, hingga 60 meter.

Papua Niugini


Seusai pertemuan dengan delegasi Papua Niugini, negara tetangga tersebut ingin mengunjungi PT Pindad dan PT Dirgantara Indonesia. Mereka telah mengoperasikan sejumlah pesawat CASA-Nurtanio (CN) buatan Indonesia.


Filipina


Pemerintah Filipina menyiapkan dana 100 juta dollar AS (sekitar Rp 900 miliar) untuk membeli tiga kapal landing platform dock (LPD) bagi angkatan lautnya. ”Kita sedang merundingkan spesifikasi LPD yang sesuai dengan anggaran yang dimiliki Filipina,” kata Purnomo.

Brunei

Selain itu, lanjut Purnomo, pemerintah Brunei juga berminat untuk membeli senapan serbu varian dua (SS-V2) buatan PT Pindad. Menurut dia, Pemerintah Brunei baru menyadari Indonesia telah memproduksi senjata jenis tersebut, yang merupakan produk Indonesia yang berbasis dari senapan Fabrique Nationale Belgia. Militer Brunei juga mengoperasikan perahu karet untuk satuan taktis yang dibuat di Bogor, Jawa Barat. (ONG)

(Kompas)

http://defense-studies.blogspot.com/

Jumat, 27 Agustus 2010

RI Rancang Kapal Selam

Jakarta, Kompas - Setelah merasa mapan dalam industri pertahanan untuk matra darat, Indonesia pun merancang industri pertahanan bagi matra laut. Meski belum resmi diluncurkan, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengungkapkan, Indonesia akan membangun kapal selam sendiri. Terlebih setelah PT PAL Surabaya mengembangkan kapal perang sejenis fregat kelas La Fayette.

”Kami sebenarnya cukup bisa membangun sendiri industri pertahanan untuk Angkatan Laut. Sekarang Indonesia sudah membangun kapal perang modern sejenis fregat kelas La Fayette seperti yang dimiliki Singapura dan akan selesai dalam waktu empat tahun oleh PT PAL,” ujar Purnomo di sela-sela seminar ”Pertahanan Nasional Indonesia dalam Perspektif Sosial-Budaya” di Gedung Widya Graha LIPI, Jakarta, Rabu (25/8).

Menurut Purnomo, keberhasilan membangun kapal perang modern membuat pemerintah cukup percaya diri memperkuat industri pertahanan untuk Angkatan Laut. ”Saya katakan bisa enggak dalam waktu dekat ini kita membangun kapal selam. Kita, kan, punya dok yang cukup untuk membangunnya di Surabaya,” ujarnya.

Industri pertahanan dalam negeri, lanjut Purnomo, sudah cukup membanggakan, terutama untuk matra darat. Keberhasilan PT Pindad membuat panser dan senapan serbu SS1 dan SS2 merupakan salah satu contoh. Panser buatan Pindad kini sudah diekspor ke negara-negara ASEAN.

Pengamat militer Salim Said mengungkapkan, Indonesia memiliki kemampuan untuk membangun industri Angkatan Laut sendiri. Menurut dia, sebenarnya sudah sejak dulu Indonesia dapat membuat kapal perang, termasuk kapal selam, sendiri.

Salim mengatakan, pembangunan industri pertahanan TNI Angkatan Laut sudah sangat mendesak. Beberapa insiden di perbatasan laut Indonesia-Malaysia harus menjadi pelajaran, betapa mendesaknya Indonesia memperkuat industri pertahanan bagi matra laut. (BIL)

(Kompas)

PT PAL Tekuni Bisnis Kapal Perang

SURABAYA--PT PAL Indonesia menjajaki peluang pengadaan kendaraan perang dari Kementerian Pertahanan (Kemenhan) setelah berhasil mendapatkan kontrak pembangunan kapal perusak kawal rudal (PKR) senilai Rp 4 triliun.

Direktur Utama PAL, Harsusanto mengatakan, Kemenhan sudah menyatakan minat untuk membuat kontrak lanjutan tersebut. "Yang sudah di depan mata untuk landing ship tank dan hydrography," katanya ketika ditemui usai menghadiri Kontrak Pembangunan Kapal (Ship Building Contract) Lima Kapal Kanker Pertamina dengan Empat Galangan Kapal, Kamis (26/8).

Untuk pembangunan kapal PKR sendiri, kata Harsusanto, pihaknya akan melanjutkan finalisasi kontrak pada bulan depan dan merampungkannya Oktober mendatang. Dalam proyek ini, PAL bermitra dengan Damen Schelde, pabrikan kapal asal Belanda. Bagi Damen sendiri, kata dia, pembuatan PKR gabungan ini merupakan pengalaman pertama bagi mereka.

Harsusanto berharap, terjadi transfer teknologi dalam proyek PKR yang perdana ini. Sehingga, untuk proyek selanjutnya dapat dilakukan secara mandiri. "Wah, potensinya ke depan bisa sampai 10 kapal (PKR)," katanya.

Menteri Perindustrian, MS Hidayat berharap proyek perdana kapal PKR oleh PAL ini mampu menjadi titik awal yang baik bagi industri alutsista nasional. "Karena itu, ini (proyek PKR) menjadi tugas berat bagi PAL," ucapnya dalam kesempatan yang sama.

(Republika)

TNI AL Pesan Kapal Rudal Produksi Batam




BATAM (BP) - Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut (AL) memercayakan pembuatan kapal cepat rudal nasional kepada PT Palindo Marine Shipyard Batam. Galangan kapal yang memproduksi kapal-kapal aluminium, fiberglass dan perahu ini mendapat satu pesanan kapal yang berbiaya Rp60 miliar.

Kemarin, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Madya TNI Agus Suhartono, meninjau PT Palindo Marine yang berada di Seilekop, Sagulung. Selama di galangan kapal itu, Kasal dan rombongan menanyakan perkembangan pengerjaan kapal pertama itu. Kapal rudal cepat atau KCR-40 itu mulai dibuat 9 Oktober 2009 dan rencananya selesai dalam 52 pekan.

“Kita pesan di sini karena sesuai kebijakan industri pertahanan, pengusaha dalam negeri harus diajak kerjasama. Dan yang memenangkan tender, PT Palindo ini. Perusahaan swasta nasional yang bisa dibina untuk memenuhi kebutuhan alutsista (alat utama sistem persenjataan) kita,’’ jelas Kasal Laksamana Madya TNI Agus Suhartono di lokasi PT Palindo Marine, kemarin.

Menurut Agus Suhartono, kapal ini berbahan aluminium baja pada bagian bawah dan fiberglass pada bagian atas. Penggunanaan bahan aluminium baja itu, lanjut dia, karena lebih tahan lama.

Sementara fiber usianya tidak tahan lama, tidak bagus untuk lingkungan , dan tidak kuat.
“Biaya pembuatan Rp60 miliar. Belum termasuk pendorongnya, alat navigasi dan alat komunikasi. Juga belum termasuk senjata dan rudalnya,’’ kata Kasal.

Untuk persenjataan, ungkap Kasal, AL akan memesannya dari Eropa. Sementara rudalnya dari Asia. Kemungkinan dari China atau Korea. Biaya untuk senjata dan rudal ini sebesar 200 juta dolar Amerika. Alat persenjataan baru dipasang setelah kapal selesai dibuat.

Kapal sejenis ini akan dipesan sebanyak 22 unit. Pengadaannya secara bertahap. Sampai tahun 2014, direncanakan bertambah antara empat atau enam unit.

Managing Director PT Palindo Marine Shipyard, Harmanto mengaku belum mengetahui apakah semua kapal itu nantinya diproduksi di Palindo.

“Kita baru mendapat satu pesanan. Kita memang sudah sering mendapat pesanan kapal patroli, tapi baru kali ini kapal rudal,’’ katanya. (uma)

Pengadaan Kapal Selam TNI AL Selesai 2014

JAKARTA--MI: Pengadaan kapal selam untuk memperkuat jajaran TNI AL dijadwalkan selesai pada 2014. Saat ini, TNI AL kembali menyusun ulang spesifikasi teknis dan operasional dari kapal selam yang dibutuhkan.

Hal ini disampaikan KSAL Laksamana Madya Agus Suhartono seusai menghadiri peringatan Dharma Samudra di Jakarta, Jumat (15/7). "Sekarang baru kita proses awal lagi untuk pengadaannya mulai dari operation requirement, spesifikasi teknik kita tata ulang. Aplikasi kontrak tahun ini sudah bisa dilaksanakan. Pada tahun 2011, sudah bisa dibangun dan tahun 2014 sudah jadi," kata KSAL.

Ia beralasan perkembangan situasi saat ini menjadi alasan pihaknya harus meninjau kembali pengadaan kapal selam. Maka itu, ia menyatakan bahwa kemampuan kapal selam selanjutnya harus lebih baik dari kemampuan kapal selam yang ada. Kapal selam Nanggala dan Cakra memiliki kemampuan ketahanan menyelam hingga dua minggu. Karena itu kemampuan minimal kapal selam baru haruslah dua minggu.

"Kemampuan kapal selam dilihat dari ketahanan kapal selam itu menyelam lebih lama. Itu yang paling utama bagi kapal selam, minimal dua minggu. Kalau kapal selam tiap hari harus muncul yah ketahuan. Maka itu, harus bisa menyelam cukup lama," jelasnya.

Dalam cetak biru pertahanan TNI AL, KSAL menyatakan bahwa Indonesia setidaknya memiliki empat kapal selam pada 2014. Itu terdiri dari dua kapal selam yang ada ditambah dua pengadaan baru.

Meski pilihan negara produsen belum ada, ia memperkirakan hanya ada tiga negara yang menjadi pilihan. "Tetap saja kan mbahnya kapal selam kan Jerman. Korea juga memiliki kemampuan dengan lisensi Jerman, kemudian Rusia. Ya sekitar itu. Hanya kita belum tahu mana yang dipilih," tandasnya. (DM/OL-06)

(Media Indonesia)