Jakarta (ANTARA News) - PT Dirgantara Indonesia (Persero) bekerjasama dengan pabrikan pesawat asal Eropa, European Aeronautic Defense and Space (EADS)-CASA akan membuat pesawat militer jenis C295.
"Tahap awal kita akan menawarkan pembuatan pesawat jenis C295 ini untuk keperluan TNI yang akan mengganti pesawat jenis Fokker 27. Pesawat C295 merupakan jenis derivatif dari C235," kata Direktur Utama PT DI, Budi Santoso di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu.
Menurut Budi, kapasitas produksi PT DI untuk pembuatan pesawat jenis C295 bisa mencapai 12 unit per tahun.
Menurut Budi, PT DI sejak tahun 1974 ketika masih bernama Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN) sudah melakukan kerjasama dengan CASA, pabrikan pesawat asal Spanyol untuk membuat komponen, sebaliknya CASA membantu PTDI dari sisi permesinan.
Namun, ia mengakui kerjasama tersebut sempat terhenti pada beberapa periode.
"Belakangan kembali dilakukan kerjasama yang ditandai dengan pengalihan pabrik pesawat CASA dari Spanyol ke Bandung," ujarnya.
EADS tertarik merealisasikan kerjasama dengan PT DI karena ongkos produksi di Eropa lebih mahal ketimbang di Indonesia.
Ia menambahkan mulai tahun 2011 pihaknya akan memproduksi pesawat jenis C212 untuk memenuhi pesanan dari Thailand, Vietnam dan Korea Selatan.
Meski begitu Budi tidak merinci berapa besar biaya investasi pengadaan pesawat jenis C295 maupun jenis C212.
"Kami masih menunggu hasil penawaran pesanan dari TNI. Sedangkan modalnya akan dipenuhi oleh EADS," ujarnya.
Kerjasama yang didasarkan pada prinsip profit sharing tersebut, namun PT DI akan menyanggupi tingkat komponen dalam negeri (TKDN) hingga 40 persen.(R017/S006)
(Antara)
Tampilkan postingan dengan label Pesawat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesawat. Tampilkan semua postingan
Jumat, 25 Maret 2011
TNI Setuju Hibah Dua Skuadron F-16 A/B
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Tentara Nasional Indonesia (TNI) menerima tawaran hibah dua skuadron pesawat tempur F-16A/B "Fighting Falcon" dari Amerika Serikat (AS).
Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono kepada ANTARA di Jakarta, Senin mengemukakan, proses persetujuan sudah disampaikan Kementerian Pertahanan dan kini menunggu konfirmasi dari pihak AS.
"Prosesnya sedang berjalan, sudah ditindaklanjuti juga oleh Kementerian Pertahanan dan saat ini kita menunggu konfirmasi lebih lanjut dari AS tentang persetujuan RI atas hibah tersebut," ujarnya.
Agus menuturkan, pertimbangan TNI menerima hibah dua skuadron F-16A/B Fighting Falcon itu dikarenakan lebih efektif dan efisien jika membeli enam pesawat sejenis yang baru. "TNI telah memprogramkan pengadaan enam pesawat F-16 yang baru dari AS pada 2014, yang lebih canggih. Namun, dari segi harga lebih hemat jika kita menerima hibah dua skuadron F-16 tersebut," katanya.
Dari sisi teknologi, lanjut Panglima TNI, ke-24 unit pesawat hibah itu dapat di-"upgrade" disesuaikan dengan teknologi terbaru setara dengan F-16 varian terbaru yakni F-16 C/D Block 52. "Sistem avioniknya kita 'up-grade', termasuk sistem persenjataannya, maka pesawat F-16 yang dihibahkan itu masih sangat 'mumpuni' sebagai persenjataan yang memberikan efek tangkal," katanya.
Bahkan, masa pakai pesawat F-16 yang dihibahkan itu masih bisa mencapai 20 hingga 25 tahun lagi. "Jadi, lebih efektif dan efisien kita menerima hibah itu, daripada membeli enam pesawat sejenis yang baru," paparnya.
Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama TNI Bambang Samoedro mengatakan, pihaknya berharap dengan hibah itu, TNI segera dapat memenuhi skuadron tempurnya secara maksimal.
"Dengan hibah tersebut, maka TNI Angkatan Udara dapat segera mendapat tambahan pesawat tempur, tidak harus menunggu hingga 2014. Ini kan baik untuk memberikan efek tangkal," katanya.
(Republika)
Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono kepada ANTARA di Jakarta, Senin mengemukakan, proses persetujuan sudah disampaikan Kementerian Pertahanan dan kini menunggu konfirmasi dari pihak AS.
"Prosesnya sedang berjalan, sudah ditindaklanjuti juga oleh Kementerian Pertahanan dan saat ini kita menunggu konfirmasi lebih lanjut dari AS tentang persetujuan RI atas hibah tersebut," ujarnya.
Agus menuturkan, pertimbangan TNI menerima hibah dua skuadron F-16A/B Fighting Falcon itu dikarenakan lebih efektif dan efisien jika membeli enam pesawat sejenis yang baru. "TNI telah memprogramkan pengadaan enam pesawat F-16 yang baru dari AS pada 2014, yang lebih canggih. Namun, dari segi harga lebih hemat jika kita menerima hibah dua skuadron F-16 tersebut," katanya.
Dari sisi teknologi, lanjut Panglima TNI, ke-24 unit pesawat hibah itu dapat di-"upgrade" disesuaikan dengan teknologi terbaru setara dengan F-16 varian terbaru yakni F-16 C/D Block 52. "Sistem avioniknya kita 'up-grade', termasuk sistem persenjataannya, maka pesawat F-16 yang dihibahkan itu masih sangat 'mumpuni' sebagai persenjataan yang memberikan efek tangkal," katanya.
Bahkan, masa pakai pesawat F-16 yang dihibahkan itu masih bisa mencapai 20 hingga 25 tahun lagi. "Jadi, lebih efektif dan efisien kita menerima hibah itu, daripada membeli enam pesawat sejenis yang baru," paparnya.
Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama TNI Bambang Samoedro mengatakan, pihaknya berharap dengan hibah itu, TNI segera dapat memenuhi skuadron tempurnya secara maksimal.
"Dengan hibah tersebut, maka TNI Angkatan Udara dapat segera mendapat tambahan pesawat tempur, tidak harus menunggu hingga 2014. Ini kan baik untuk memberikan efek tangkal," katanya.
(Republika)
Minggu, 19 September 2010
Pesawat Terbang di Angkasa Selama 5 Tahun
Pesawat Terbang di Angkasa Selama 5 Tahun
Muhammad Chandrataruna
Boeing SolarEagle, Pesawat Pengintai Keamanan (TG Daily)
BERITA TERKAIT

* Pesawat Tenaga Surya Mampu Terbang 26 Jam
VIVAnews - Boeing baru saja menandatangani kesepakatan senilai US$89 juta dengan US Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA), agen riset pertahanan Amerika Serikat, untuk mengembangkan pesawat tak berawak yang mampu terbang di angkasa sampai lima tahun lamanya.
"SolarEagle adalah pesawat yang unik, berbadan besar dan tanpa awak. Ia dirancang khusus untuk berada tetap di ketinggian statosfer setidak-tidaknya selama lima tahun," kata juru bicara Boeing Pat O'Neil, dikutip TG Daily, Jumat 17 September 2010.
Konon, pesawat tersebut harus mampu terbang di ketinggian antara 10 kilometer hingga 50 kilometer di atas permukaan laut atau dikenal dengan lapisan stratosfer. Pasalnya, AS akan memanfaatkan pesawat unik tersebut sebagai pesawat pemantau keamanan di wilayahnya. Pada lapisan stratosfer, di samping SolarEagle akan lebih mudah mendapatkan cahaya tata surya, ia juga dapat terhindar dari gangguan cuaca.
"Ya, tugas ini memang menegangkan. Tetapi, kami yakin pesawat tak berawak rancangan kami ini bisa diandalkan. SolarEagle akan siap memenuhi tantangan tersebut sebagai alat pemantau, ia bisa berkomunikasi terus-menerus untuk kepentingan intelijen, pengawasan, dan sebagai instrumen misi pengintaian dari ketinggian di atas 60.000 kaki," kata O'Neil.
Dalam waktu dekat, Boeing SolarEagle akan didemonstrasikan. Dalam uji cobanya, pesawat bersayap lebar itu akan melayang di angkasa dalam waktu 30 hari penuh. Ini untuk membuktikan teknologi panel tata suryanya dapat bekerja baik dalam menyimpan energi sebagai sel bahan bakar sehingga bisa digunakan pada malam hari.
Pada SolarEagle, Boeing juga menyematkan motor listrik yang bekerja sangat efisien beserta baling-balingnya. Tak hanya itu, ia juga dilengkapi sayap sepanjang 400 kaki yang 'ditempeli' panel tata surya untuk meningkatkan tenaga dan performa terbang yang aerodinamis.
Menariknya, SolarEagle hanyalah sebuah proyek prototipe dan tanda munculnya pesawat pengintai dengan durasi terbang sangat lama. "Karena, saat ini kami juga sedang mengembangkan pesawat SolarEagle dengan versi lebih lengkap. Namanya Phantom Ray. Ukurannya lebih besar. Sama-sama tak berawak, tetapi teknologi yang dimilikinya jauh lebih mewah. Demonstrasinya dijadwalkan sekitar awal tahun depan," ucap O'Neil.
Boeing SolarEagle sendiri diharapkan dapat melakukan penerbangan perdananya pada tahun 2014. (TG Daily)
• VIVAnews
Muhammad Chandrataruna
Boeing SolarEagle, Pesawat Pengintai Keamanan (TG Daily)
BERITA TERKAIT

* Pesawat Tenaga Surya Mampu Terbang 26 Jam
VIVAnews - Boeing baru saja menandatangani kesepakatan senilai US$89 juta dengan US Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA), agen riset pertahanan Amerika Serikat, untuk mengembangkan pesawat tak berawak yang mampu terbang di angkasa sampai lima tahun lamanya.
"SolarEagle adalah pesawat yang unik, berbadan besar dan tanpa awak. Ia dirancang khusus untuk berada tetap di ketinggian statosfer setidak-tidaknya selama lima tahun," kata juru bicara Boeing Pat O'Neil, dikutip TG Daily, Jumat 17 September 2010.
Konon, pesawat tersebut harus mampu terbang di ketinggian antara 10 kilometer hingga 50 kilometer di atas permukaan laut atau dikenal dengan lapisan stratosfer. Pasalnya, AS akan memanfaatkan pesawat unik tersebut sebagai pesawat pemantau keamanan di wilayahnya. Pada lapisan stratosfer, di samping SolarEagle akan lebih mudah mendapatkan cahaya tata surya, ia juga dapat terhindar dari gangguan cuaca.
"Ya, tugas ini memang menegangkan. Tetapi, kami yakin pesawat tak berawak rancangan kami ini bisa diandalkan. SolarEagle akan siap memenuhi tantangan tersebut sebagai alat pemantau, ia bisa berkomunikasi terus-menerus untuk kepentingan intelijen, pengawasan, dan sebagai instrumen misi pengintaian dari ketinggian di atas 60.000 kaki," kata O'Neil.
Dalam waktu dekat, Boeing SolarEagle akan didemonstrasikan. Dalam uji cobanya, pesawat bersayap lebar itu akan melayang di angkasa dalam waktu 30 hari penuh. Ini untuk membuktikan teknologi panel tata suryanya dapat bekerja baik dalam menyimpan energi sebagai sel bahan bakar sehingga bisa digunakan pada malam hari.
Pada SolarEagle, Boeing juga menyematkan motor listrik yang bekerja sangat efisien beserta baling-balingnya. Tak hanya itu, ia juga dilengkapi sayap sepanjang 400 kaki yang 'ditempeli' panel tata surya untuk meningkatkan tenaga dan performa terbang yang aerodinamis.
Menariknya, SolarEagle hanyalah sebuah proyek prototipe dan tanda munculnya pesawat pengintai dengan durasi terbang sangat lama. "Karena, saat ini kami juga sedang mengembangkan pesawat SolarEagle dengan versi lebih lengkap. Namanya Phantom Ray. Ukurannya lebih besar. Sama-sama tak berawak, tetapi teknologi yang dimilikinya jauh lebih mewah. Demonstrasinya dijadwalkan sekitar awal tahun depan," ucap O'Neil.
Boeing SolarEagle sendiri diharapkan dapat melakukan penerbangan perdananya pada tahun 2014. (TG Daily)
• VIVAnews
Airbus Rancang Pesawat Tembus Pandang
Desain luar biasa ini akan memungkinkan para penumpang melihat pemandangan.
Elin Yunita Kristanti

Desain pesawat tembus pandang Airbus
VIVAnews -- Bayangkan, suatu hari di masa depan, Anda sedang berada dalam pesawat. Lalu, pengumuman seperti ini terdengar dari kokpit: "Ini kapten penerbang berbicara, pesawat akan segera tembus pandang."
Dan setelahnya, Anda merasakan sensasi melayang di udara.
Ini bukan sekedar khayalan. Produsen pesawat terbang Airbus sedang mengembangkan konsep pesawat penumpang tembus pandang untuk masa depan. Ini termasuk, badan pesawat yang transparan.
Begini cara kerjanya, pilot akan menekan sebuah tombol yang mengirimkan getaran elektrik ke badan pesawat yang terbuat dari keramik berteknologi tinggi. Tekanan tombol akan membuat pesawat menghilang.
Desain luar biasa ini akan memungkinkan para penumpang melihat pemandangan -- kota-kota atau gumpalan awan di bawah kaki mereka. Mendongak ke atas, penumpang bisa langsung menatap langit.
Pemandangan tembus pandang ini diharapkan akan memberikan sensasi mengambang.
"Penumpang dalam pesawat seperti ini akan mengalami sensasi terbang yang sama sekali baru," kata kepala riset dan teknologi Airbus, Axel Krein kepada majalah Jerman, Der Spiegel.
Meski kelihatannya terlalu mengada-ada, ini adalah salah satu dari beberapa rencana yang dipertimbangkan oleh para insinyur perusahaan penerbangan raksasa Eropa itu.
Airbus menamai konsep ini "The Future, By Airbus" atau "Masa Depan dengan Airbus".
Tak hanya membuat pesawat tembus pandang. Konsep ini juga mencakup informasi sumber energi potensial untuk penerbangan di masa depan.
Inovasi yang sedang dikembangkan tim yang dipimpin Krein termasuk kulit pesawat yang bisa memperbaiki dirinya sendiri jika terjadi retak. Juga mesin yang menyatu dengan badan pesawat.
"Kami meminta teknisi kami berimajinasi secara bebas, terkait visi realistis penerbangan pada tahun 2050," tambah Krein seperti dimuat di FOXnews.
Namun dari semua ide 'liar' itu, pesawat tembus pandang mendapat perhatian khusus.
"Struktur cerdas ini akan membuat pesawat lebih ringan dan lebih efisien -- sementara memberikan pemandangan langit 360 derajat untuk penumpang," demikian tulis Airbus.
"Pesawat masa depan akan menawarkan pemandangan menakjubkan tanpa batas keajaiban dari lima benua - di mana Anda akan dapat melihat piramida atau Menara Eiffel melalui lantai transparan pesawat."
Meski ini imajinasi liar, Krein konsep masuk akal. Ini realistis untuk masa depan industri penerbangan.
"Orang-orang kami masih 'berpijak ke tanah', berdasarkan realitas. Apalagi, sebagian besar teknologi yang diperlukan sudah tersedia," kata dia. (umi)
• VIVAnews
Elin Yunita Kristanti

Desain pesawat tembus pandang Airbus
VIVAnews -- Bayangkan, suatu hari di masa depan, Anda sedang berada dalam pesawat. Lalu, pengumuman seperti ini terdengar dari kokpit: "Ini kapten penerbang berbicara, pesawat akan segera tembus pandang."
Dan setelahnya, Anda merasakan sensasi melayang di udara.
Ini bukan sekedar khayalan. Produsen pesawat terbang Airbus sedang mengembangkan konsep pesawat penumpang tembus pandang untuk masa depan. Ini termasuk, badan pesawat yang transparan.
Begini cara kerjanya, pilot akan menekan sebuah tombol yang mengirimkan getaran elektrik ke badan pesawat yang terbuat dari keramik berteknologi tinggi. Tekanan tombol akan membuat pesawat menghilang.
Desain luar biasa ini akan memungkinkan para penumpang melihat pemandangan -- kota-kota atau gumpalan awan di bawah kaki mereka. Mendongak ke atas, penumpang bisa langsung menatap langit.
Pemandangan tembus pandang ini diharapkan akan memberikan sensasi mengambang.
"Penumpang dalam pesawat seperti ini akan mengalami sensasi terbang yang sama sekali baru," kata kepala riset dan teknologi Airbus, Axel Krein kepada majalah Jerman, Der Spiegel.
Meski kelihatannya terlalu mengada-ada, ini adalah salah satu dari beberapa rencana yang dipertimbangkan oleh para insinyur perusahaan penerbangan raksasa Eropa itu.
Airbus menamai konsep ini "The Future, By Airbus" atau "Masa Depan dengan Airbus".
Tak hanya membuat pesawat tembus pandang. Konsep ini juga mencakup informasi sumber energi potensial untuk penerbangan di masa depan.
Inovasi yang sedang dikembangkan tim yang dipimpin Krein termasuk kulit pesawat yang bisa memperbaiki dirinya sendiri jika terjadi retak. Juga mesin yang menyatu dengan badan pesawat.
"Kami meminta teknisi kami berimajinasi secara bebas, terkait visi realistis penerbangan pada tahun 2050," tambah Krein seperti dimuat di FOXnews.
Namun dari semua ide 'liar' itu, pesawat tembus pandang mendapat perhatian khusus.
"Struktur cerdas ini akan membuat pesawat lebih ringan dan lebih efisien -- sementara memberikan pemandangan langit 360 derajat untuk penumpang," demikian tulis Airbus.
"Pesawat masa depan akan menawarkan pemandangan menakjubkan tanpa batas keajaiban dari lima benua - di mana Anda akan dapat melihat piramida atau Menara Eiffel melalui lantai transparan pesawat."
Meski ini imajinasi liar, Krein konsep masuk akal. Ini realistis untuk masa depan industri penerbangan.
"Orang-orang kami masih 'berpijak ke tanah', berdasarkan realitas. Apalagi, sebagian besar teknologi yang diperlukan sudah tersedia," kata dia. (umi)
• VIVAnews
Kamis, 16 September 2010
Pesawat Pembawa Sukhoi Tiba di Makassar, Siap Jemput Jenazah Teknisi
Jakarta - Pesawat Antonov 124-100 dari Rusia, yang mengangkut Sukhoi tipe SU 27-SKM, mendarat mulus di Pangkalan Udara (Lanud) Sultan Hasanuddin, Makassar pukul 20.30 Wita. Proses penurunan pesawat tempur ini dilakukan oleh tim khusus dari pabriknya selama dua jam di area Lanud.
Menurut Komandan Pangkalan Udara (Danlanud) Hasanuddin Marsekal Pertama (Marsma) Agus Supriatna, pesawat tersebut mengangkut pesawat Sukhoi pesanan terakhir milik TNI AU. Rencananya, lanjut Agus, Sukhoi yang belum dalam kondisi utuh ini akan segera dirakit selama tiga hari oleh tim teknisi Sukhoi yang berjumlah sekitar 30 orang di Lanud Sultan Hasanuddin.
"Selain mengangkut satu buah Sukhoi, pesawat Antonov 124-100 juga membawa 200-an perkakas yang dibutuhkan selama proses perakitan," papar Agus kepada wartawan, Kamis (16/9/2010).
Selain mengangkut Sukhoi, pesawat raksasa jenis kargo ini juga mengangkut tiga orang tim warranty dari Rusia menggantikan tiga anggota tim sebelum Tim Warranty sebelumnya yang tewas karena keracunan Methanol.
Agus menyebutkan, rencananya 27 September mendatang akan dilakukan penyerahan secara resmi tiga pesawat Sukhoi yang dipesan untuk memperkuat Skuadron 11 Sultan Hasanuddin, oleh pihak pabrik Sukhoi pada Menteri Pertahanan RI.
Sementara itu, pemulangan tiga jenazah tim warranty Sukhoi akan dilakukan (17/9) sekitar pukul 15.00 Wita. Pesawat Antonov akan bertolak kembali ke Rusia dengan mengikutsertakan peti jenazah korban tiga orang teknisi Sukhoi.
(mok/lia)
sumber : Moksa Hutasoit - detikNews
Menurut Komandan Pangkalan Udara (Danlanud) Hasanuddin Marsekal Pertama (Marsma) Agus Supriatna, pesawat tersebut mengangkut pesawat Sukhoi pesanan terakhir milik TNI AU. Rencananya, lanjut Agus, Sukhoi yang belum dalam kondisi utuh ini akan segera dirakit selama tiga hari oleh tim teknisi Sukhoi yang berjumlah sekitar 30 orang di Lanud Sultan Hasanuddin.
"Selain mengangkut satu buah Sukhoi, pesawat Antonov 124-100 juga membawa 200-an perkakas yang dibutuhkan selama proses perakitan," papar Agus kepada wartawan, Kamis (16/9/2010).
Selain mengangkut Sukhoi, pesawat raksasa jenis kargo ini juga mengangkut tiga orang tim warranty dari Rusia menggantikan tiga anggota tim sebelum Tim Warranty sebelumnya yang tewas karena keracunan Methanol.
Agus menyebutkan, rencananya 27 September mendatang akan dilakukan penyerahan secara resmi tiga pesawat Sukhoi yang dipesan untuk memperkuat Skuadron 11 Sultan Hasanuddin, oleh pihak pabrik Sukhoi pada Menteri Pertahanan RI.
Sementara itu, pemulangan tiga jenazah tim warranty Sukhoi akan dilakukan (17/9) sekitar pukul 15.00 Wita. Pesawat Antonov akan bertolak kembali ke Rusia dengan mengikutsertakan peti jenazah korban tiga orang teknisi Sukhoi.
(mok/lia)
sumber : Moksa Hutasoit - detikNews
Senin, 06 September 2010
Pengiriman Sukhoi 27 SKM Diundur 7 dan 16 September

Rusia akan mengirimkan enam kontrak terakhir jet tempur Sukhoi ke Indonesia pada tanggal 7 September dan 16, sumber informasi mengatakan pada hari Senin.
Berdasarkan kontrak senilai 300 juta, ditandatangani pada tahun 2007, Rusia telah melengkapi untuk pengiriman tiga Su-30MK2 dan tiga pesawat tempur Su-27SKM ke Jakarta pada akhir tahun 2010 di samping dua Su-27SK dan dua pejuang Su-30MK dibeli di tahun 2003 .
ketiga Jet Su-30MK2 disampaikan pada bulan Januari.
An-124 pesawat angkut Rusia akan mengirimkan dua pesawat Su-27SKM ke pangkalan udara di kota Makassar di Sulawesi Selatan, Indonesia pada hari Selasa, kata sumber itu. Pesawat Su-27SKM lainnya akan dikirimkan ke basis yang sama lima hari kemudian.
Pesawat akan dikirim ke Indonesia lebih awal dari jadwal berikut permintaan oleh pihak militer Indonesia, yang ingin pesawat untuk mengambil bagian dalam sebuah parade militer yang didedikasikan untuk Angkatan Bersenjata Hari pada tanggal 5 Oktober, ia menambahkan.
Indonesia sebelumnya mengatakan diperlukan setidaknya satu skuadron dilengkapi dengan 16 pesawat tempur Sukhoi untuk menggantikan bagian dari armada pesawat tempur f-16 yang sudah menua.
JAKARTA, September 6 (RIA Novosti)
Minggu, 05 September 2010
AU Rusia Akan Beli 60 Pesawat Tempur Generasi Ke 5

Pesawat Tempur T-50 Generasi Ke 5(Foto: RIA)
AU Rusia akan menerima lebih dari 60 pesawat generaasi ke 5 oada tahun 2015-2016, komandan pasukan mengatakan pada hari Selasa.
"AU akan mulai mengambil pengiriman pesawat generaasi ke 5 oada tahun 2015-2016. Jumlah awal ini lebih dari 60," kata Kolonel Jenderal Alexander Zelin.
Dia juga mengatakan batch pertama pesawat generaasi ke 5 akan diberikan dengan yang lebih tua, "non-kelima" mesin generasi.
Pada pertengahan Juni Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin mengamati uji terbang 16 prototipe pesawat generaasi ke 5.
Deputi Menteri Pertahanan Pengadaan Senjata Vladimir Popovkin mengatakan Departemen Pertahanan akan membeli pesawat 6-10 gelombang pertama setelah tahun 2012, berdasarkan hasil tes awal. Dia mengatakan pesawat tempur akan menjadi lebih unggul dari F-22 milik US.
Perdana menteri mengatakan 30000000000 rubel (sekitar $ 1 miliar) telah dihabiskan untuk proyek dan lainnya 30 miliar akan diminta untuk menyelesaikannya, setelah itu mesin, persenjataan dan komponen lainnya akan ditingkatkan.
Dia mengatakan pesawat tempur generasi ke 5 bisa dipakai sampai 30-35 tahun, jika modernisasi dan upgrade yang diperhitungkan, dan akan menjadi sekitar tiga kali lebih murah dari luar negeri.
hanya diketahui proyek Rusia generasi kelima adalah Sukhoi PAK FA dan prototipe saat ini adalah T-50. Hal ini dirancang untuk bersaing dengan AS F-22 Raptor, sejauh ini hanya di dunia tempur generasi kelima, dan F-35 Lightning II.
Rusia telah mengembangkan tempur terbarunya sejak tahun 1990. pejabat tinggi negara ini militer mengatakan pesawat tempur stealth jet dengan kisaran hingga 5.500 km harus memasukkan layanan dengan Angkatan Udara pada tahun 2015.
PAK FA harus bersenjata dari udara ke udara , udara ke permukaan, dan rudal udara ke kapal, dan memiliki dua 30-mm meriam.
Sumber: RIA / MIK
TNI AU Membeli 16 Pesawat Super Tucano Dan 3 Sukhoi 0diggsdigg
VIVAnews - Malaysia tidak hanya sering melakukan pelanggaran perbatasan di wilayah laut, bahkan juga pelanggaran lain seperti di udara sering terjadi, khususnya di perbatasan.
Kepala Staf TNI Angkatan Udara (Kasau) Marsekal Imam Sufaat menyatakan, pelanggaran yang dilakukan negeri Jiran itu sering terjadi di wilayah perbatasan.
"Tidak pernah masuk wilayah kita, tapi melanggar wilayah perbatasan yang masih dipersengketakan itu sering," kata Imam Sufaat ketika ditanya VIVAnews, Selasa malam.
Pesawat yang sering melanggar itu, kata Kasau, kebanyakan adalah pesawat-pesawat kecil, contoh pernah terjadi di Ambalat, itupun sudah diselesaikan secara diplomasi.
Karena itulah, untuk menjaga kedaulatan NKRI, TNI AU melalui radarnya tetap melakukan patroli rutin secara intensif.
"Jadi saat ini, untuk pengawasan perbatasan kita tidak ada masalah, setiap hari melakukan patroli udara untuk mengawasi (Pesawat Malaysia). Kita selalu siap menghadapi kemungkinan terburuk," tuturnya.
Sedangkan, untuk menunjang kekuatan patroli, TNI Angkatan Udara membeli 16 pesawat Super Tucano dari Brasil. Pesawat tersebut akan digunakan untuk patroli keamanan di daerah-daerah perbatasan. TNI AU juga membeli 3 pesawat Sukhoi untuk menggantikan pesawat jenis MK-53.
Menurut Imam, Super Tucano menggantikan pesawat tempur taktis OV-10 Bronco North American Rockwell. TNI AU akan memanfaatkannya untuk pengamanan di daerah perbatasan. Pesawat juga dipakai untuk memantau penebangan liar, yang selama ini sulit terpantau.
Sumber: VIVA NEWS
Kepala Staf TNI Angkatan Udara (Kasau) Marsekal Imam Sufaat menyatakan, pelanggaran yang dilakukan negeri Jiran itu sering terjadi di wilayah perbatasan.
"Tidak pernah masuk wilayah kita, tapi melanggar wilayah perbatasan yang masih dipersengketakan itu sering," kata Imam Sufaat ketika ditanya VIVAnews, Selasa malam.
Pesawat yang sering melanggar itu, kata Kasau, kebanyakan adalah pesawat-pesawat kecil, contoh pernah terjadi di Ambalat, itupun sudah diselesaikan secara diplomasi.
Karena itulah, untuk menjaga kedaulatan NKRI, TNI AU melalui radarnya tetap melakukan patroli rutin secara intensif.
"Jadi saat ini, untuk pengawasan perbatasan kita tidak ada masalah, setiap hari melakukan patroli udara untuk mengawasi (Pesawat Malaysia). Kita selalu siap menghadapi kemungkinan terburuk," tuturnya.
Sedangkan, untuk menunjang kekuatan patroli, TNI Angkatan Udara membeli 16 pesawat Super Tucano dari Brasil. Pesawat tersebut akan digunakan untuk patroli keamanan di daerah-daerah perbatasan. TNI AU juga membeli 3 pesawat Sukhoi untuk menggantikan pesawat jenis MK-53.
Menurut Imam, Super Tucano menggantikan pesawat tempur taktis OV-10 Bronco North American Rockwell. TNI AU akan memanfaatkannya untuk pengamanan di daerah perbatasan. Pesawat juga dipakai untuk memantau penebangan liar, yang selama ini sulit terpantau.
Sumber: VIVA NEWS
Jumat, 27 Agustus 2010
Kerjasama Pembuatan Jet Tempur Indonesia Dan Korea

TEMPO Interaktif, Jakarta -Kementerian Pertahanan menyatakan Indonesia siap melakukan kerja sama produksi pesawat tempur dengan pihak Korea Selatan. Hal itu dinyatakan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dan Menteri Pertahanan Korea Selatan Kim Tae Young seusai melakukan pertemuan bilateral di Jakarta, Rabu (11/8).
Kerjasama pesawat tempur ini, kata Purnomo, merupakan perjanjian yang ditandatangani pada Juli 2010. Menyambung perjanjian sebelumnya yang diteken 2006. "Kemitraan strategis memang jadi salah satu fokusnya," ujarnya.
Purnomo mengatakan proyek kerjasama dalam pembuatan pesawat tempur KFX akan dimulai pada 2012. Diharapkan, kata dia, proyek kedua negara ini bisa menghasilkan sebuah prototipe pesawat tempur pada tahun 2020. "Kami berharap Indonesia bisa menjadi base produksinya," ujarnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Samsoeddin mengatakan Indonesia akan meminta hak penjualan juga atas pesawat yang di produksi nantinya. Saat ini, kata dia, kedua negara saedang membentuk kelompok kerja untuk terus membahas soal ini. "Ada tim pula yang pergi ke sana melihat awal proses pembuatan pesawat," ujarnya.
Sjafrie mengatakan dalam deklarasi kemitraan strategis antara Indonesia dengan Korea Selatan pada tahun 2006 silam disebut khusus soal pembuatan pesawat. Selain itu kerjasama dibangun untuk melakukan promosi bersama, fasilitasi kerja sama dalam produksi, alih teknologi, serta transfer pengetahuan terkait alat utama sistem persenjataan.
Menanggapi permintaan kerja sama ini, Menteri Pertahanan Korea Selatan HE Kim Tae Young mengatakan sungguh menguntungkan bisa bekerja sama dengan Indonesia dalam hal pembuatan pesawar tempur. Pasalnya, semua bahan baku dan industri pertahanan sudah dimiliki Indonesia, sehingga bisa memperlancar kerjasama pembuatan produk pertahanan ini.
Sumber: TEMPO
Terbang subuh tingkatakan profesiensi

Para teknisi sedang mempersiapkan pesawat F-16/Fighting Falcon yang akan melaksanakan latihan terbang Subuh, Senin (23/8). (Foto: Pentak Lanud Iswahjudi).
Dalam beberapa hari ini, meski di bulan suci Ramadhan, deru mesin pesawat tempur Lanud Iswahjudi sejak dini hari sudah mulai terdengar. Hal tersebut bukan dimaksudkan untuk membangunkan umat muslim untuk melaksanakan makan sahur, akan tetapi dalam rangka latihan terbang dini hari/subuh, Senin (23/8), hingga sepekan kedepan.
Bagi Lanud Iswahjudi sendiri, latihan terbang subuh tersebut sudah merupakan agenda tetap, karena selain untuk mengasah ketrampilan juga untuk membiasakan para penerbangnya melaksanakan misi pada dini hari/ subuh yang hanya mengandalkan instrument yang ada disamping visual yang sangat terbatas. Dengan demikian para penerbang tempur setiap saat dapat melaksanakan tugas dan tidak mengenal siang maupun malam hari.
Latihan terbang subuh kali ini melibatkan seluruh pesawat tempur yang berada dijajaran Wing 3 Lanud Iswahjudi, seperti Skadron Udara 3 dengan pesawat tempur F-16/Fighting Falcon, Skadron Udara 14 dengan F-5/Tiger dan Skadron Udara 15 dengan pesawat tempur Hawk MK-53.
Sebagai pangkalan operasi maka penerbang Lanud Iswahjudi senantiasa dituntut kesiapan dalam menjalankan tugas, oleh karena itu saat ini para penerbang melakukan disertifikasi yakni merubah waktu latihan yang biasanya siang hari sesuai jam dinas menjadi pukul 04.00 sampai 10.00 WIB yang dilaksanakan setelah para penerbang makan sahur.
Dalam latihan terbang Subuh tersebut, para penerbang menggunakan area latihan seperti pada siang hari yaitu Lanud Iswahjudi-Ponorogo-Tulungagung-Kediri-Nganjuk-Ngawi-Solo-Jogyakarta serta kembali ke Lanud Iswahjudi.
Sumber: TNI AU
Terbang Fajar Skuadron Udara 12

Panggilan tugas operasi dapat saja terjadi kapanpun tanpa mengenal waktu, baik pada pagi hari, siang hari, sore hari, malam hari maupun pada saat dini hari. Pelaksanaan tugas merupakan kewajiban yang harus segera ditunaikan tanpa bisa ditunggu ataupun diundur waktu pelaksanaannya. Kesiapan tempur tersebut harus selalu melekat dalam diri seorang “fighter”/penerbang tempur. Demikian juga halnya dengan para “fighters” Skadron Udara 12 Lanud Pekanbaru, mereka harus selalu siap melaksanakan tugas tugas yang diperintahkan. Untuk itu, sejak tanggal 13 Agustus yang lalu hingga 7 September yang akan datang, seluruh penerbang Skadron Udara 12 melaksanakan terbang fajar dengan waktu Take Off pukul 05.00 WIB.
Sebagai satu-satunya pangkalan induk yang berada di pulau Sumatera, Lanud Pekanbaru harus selalu meningkatkan kesiapan satuan-satuan yang ada di jajarannya, termasuk Skadron Udara 12 yang mengawaki pesawat tempur Hawk 109/209. Latihan Terbang Fajar ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan para penerbang khususnya melaksanakan penerbangan pada saat Fajar yang lebih banyak mengandalakan instrument karena visual yang sangat terbatas. Dengan demikian para penerbang tempur Skadron Udara 12 dapat melaksanakan tugas setiap saat tanpa mengenal waktu baik pada siang hari maupun malam hari.
Dengan pelaksanaan latihan Terbang Fajar ini para penerbang dan seluruh satuan yang terkait dalam operasional penerbangan Lanud Pekanbaru melakukan disertifikasi dengan merubah waktu latihan dari pukul 05.00 WIB samapai pukul 12.00 WIB.
Sumber: TNI AU
Indonesia-Korsel Kembangkan Jet KF-X
SEOUL, KOMPAS.com — Indonesia, Kamis (15/7/2010), sepakat bergabung dalam proyek pengembangan jet tempur KF-X, Korea Selatan, yang tertunda selama beberapa tahun akibat masalah teknis dan pendanaan.
"Indonesia akan memperoleh sekitar 50 jet tempur KF-X dengan menanggung 20 persen biaya pengembangan proyek bernilai miliaran dollar AS itu," kata Kementerian Pertahanan Korsel dalam sebuah pernyataan.
Kedua negara juga sepakat untuk bekerja sama dalam produksi dan pemasaran jet tempur tersebut.
Kesepakatan ini ditandatangani di Seoul oleh Komisioner Kementerian Pertahanan Korsel dan Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Indonesia, Eris Herryanto.
Korsel telah meluncurkan proyek tersebut pada tahun 2000 untuk memproduksi jet tempur buatan dalam negeri.
Setelah lama ditangguhkan karena masalah teknis dan ekonomi, Presiden Lee Myung-Bak pada Januari lalu setuju untuk mendorong proyek tersebut di tengah meningkatnya ketegangan antara Korsel dan Korut.
Korsel berencana menonaktifkan semua jet tempur F-4 dan F-5 pada 2020. Kantor berita Korsel, Yonhap, melaporkan, sekitar 170 jet tempur F-5 beroperasi di Korsel.
Pesawat-pesawat tersebut kali pertama terbang pada 1975 dan telah mengalami sejumlah kecelakaan udara.
"Pengaktifan kembali proyek itu akan dimulai awal tahun depan, dan kami berencana memproduksi jet-jet tempur baru setelah studi kelayakan rampung pada akhir 2012," kata seorang juru bicara Kementerian Pertahanan Korsel.
"Kami memerlukan mitra asing yang akan mentransfer teknologi dan suku cadang utama jet tempur tersebut," ujarnya, tanpa menyebutkan total dana yang diperlukan.
Menurut juru bicara tersebut, di samping pengembangan proyek kunci KF-X itu, Korsel juga akan terus membeli jet-jet tempur canggih dari perusahaan asing.
(Kompas)
Selasa, 30 Desember 2008
Model Pesawat Terbang Dari Peradaban Pra-kolombia Kuno

Apakah keganjilan-keganjilan prasejarah mengenai konsep pesawat terbang modern hanya bisa kita temukan di Mesir dan India saja? jawabannya tentu saja tidak. Di beberapa wilayah di sekitar Amerika Tengah hingga kebeberapa bagian negara di Amerika Latin, banyak ditemukan artifak-artifak purbakala yang berbentuk sangat mirip dengan desain pesawat terbang modern pada umumnya. Artifak-artifak yang keseluruhannya terbuat dari bahan dasar emas tersebut diperkirakan telah berusia 1000 tahun lebih. Apabila desain dari pesawat terbang di kuil Abydos masih berupa relief, lain halnya dengan benda peninggalan masa silam yang satu ini. Yup, artifak-artifak ini benar-benar berupa arca-arca kecil, mungkin boleh dibilang sebagai replika dari dari sebuah wahana bersayap yang masih sangat sulit untuk di identifikasi jenisnya.
Para ahli purbakala menyebut obyek-obyek kecil ini sebagai zoomorpic, yang artinya hewan berbentuk suatu obyek tertentu. Namun apabila artifak-artifak kecil tersebut merupakan penggambaran bentuk tubuh suatu jenis hewan tertentu, maka hewan apakah yang dapat mewakilinya? Jika dibandingakan dengan artifak-artifak kuno berbentuk makhluk hidup dari seluruh kebudayaan diseluruh dunia, maka yang satu ini sangatlah berbeda. Karakteristiknya sangat berbeda dengan artifak peninggalan kebudayaan lainnya yang pada umumnya berbentuk realistik dan sangat mudah dikenal hanya dengan melihat bentuk morfologinya saja.
Ada beberapa jenis hewan terbang seperti burung (unggas) dan serangga serta beberapa mamalia seperti tupai terbang dan oppossum. kemudian ada beberapa jenis kadal, ada juga jenis-jenis ikan tertentu yang juga dapat meluncurkan tubuhnya secara singkat ke udara. Tapi, dari semuanya itu, hewan jenis apakah yang lebih tepat untuk mewakili obyek-obyek misterius tersebut? Merlihat dari bentuk-nya saja, dapat diperkirakan jika benda tersebut bukan merupakan penggambaran menganai makhluk hidup jenis apapun. Seharusnya para sarjana tidaklah perlu terlalu memaksakan dirinya untuk terlalu ngotot menyebutkan bahwa obyek-obyek tersebut merupakan penggambaran dari suatu spesies hewan. Kini, saatnya kita harus sedikit membuka pikiran mengenai ketidakmungkinan prasejarah menjadi sesuatu yang mungkin saja terjadi.
Anak kecil sekali pun tidak akan mengimajinasikan obyek itu sebagai burung apabila diperlihatkan kepadanya. Mungkin, mereka akan lebih suka menyebutnya sebagai "mainan" berbentuk pesawat terbang. Walaupun demikian, sesungguhnya masih terlalu sulit bagi kita untuk mengidentifikasi/menentukan obyek apakah yang diukir oleh para pemahat-pemahat masa silam ini. Apakah benar artifak-artifak ini bisa dijadikan bukti kuat bahwa peradaban prasejarah telah memasuki zaman aeronautika? mungkin masih sangat sulit untuk mendapatkan jawaban yang benar-benar memuaskan.

Diatas ini adalah gambar dari artifak membingungkan tersebut. Jika kita perhatikan, struktur dari benda ini benar-benar telihat seperti kerangka sebuah pesawat terbang modern. Dimana disana kita bisa melihat secara jelas bentuk dari kedua sayapnya, dan bagian depan yang mirip dengan moncong pesawat terbang pada umumnya. Hal itu berlaku juga pada bagian belakangnya, dimana tidak ada perbedaan bentuk yang terlalu mencolok dengan bentuk posisi kemudi di bagian belakang pesawat modern. Mari kita perhatikan lagi sebuah cekungan kecil diantara kepala dan badan obyek tersebut. Saya tidak terlalu ngotot untuk menyebutnya sebagai pusat kendali/kokpit, dimana biasanya sang pilot dengan gagah-nya duduk di tempat itu. Lalu kita perhatikan bagian bawahnya, ada dua citra terlihat disana, yang satu berbentuk setengah lingakaran (tidak sempurna) dan yang satunya lagi agak sedikit memanjang hingga kebelakang tubuh obyek. Disini, saya juga tidak terlalu ngotot untuk menyebut citra setengah lingkaran tersebut sebagai roda, dimana pada setengah bagiannya lagi masuk kedalam badan pesawat. Sepertinya, memang sebuah rodalah yang kira-kira dapat mewakilinya. Lalu untuk citra yang satunya lagi, masih sangat sulit untuk ditentukan.
Bila kita mengidentifikasi artifak tersebut seperti diatas, maka kita akan semakin yakin bahwa benda kuno itu tidak sekalipun dapat mewakili bentuk dari suatu jenis spesies hewan, sehingga sebutan zoomorpic sepertinya tidaklah terlalu tepat untuk menyebutnya. Menurut pandangan saya pribadi, tidak ada salahnya kita berspekulasi bahwa masyarakat prasejarah yang sebenarnya tidaklah terlalu seprimitif yang kita bayangkan sebelumnya. Saya percaya, sebenarnya kita hanyalah mengulang sejarah dan menemukan kembali apa yang telah ditemukan oleh nenek moyang (tahu kan maksud saya?). Tentunya pernyataanku ini bukan tanpa dasar sama sekali. Bagi teman-teman yang sering mengikuti artikel di blog-ku ini, dapat kalian lihat sendiri banyaknya temuan prasejarah aneh dan misterius, namun juga begitu canggih. Para sarjana pun dibuat pusing oleh hal ini, dan mereka sering menyebut benda-benda canggih masa silam itu sebagai "keganjilan prasejarah".
Menurut pandangan masyarakat umum, awal 1900-an merupakan titik awal dari perkembangan menuju era transportasi udara setelah Wright bersaudara berhasil mengembangkan konsep pesawat terbang berkekuatan mesin pertama pertama di dunia yang mereka namakan Kitty Hawk. Tapi itu tidak menurutku, sebab saya yakin bahwa ribuan tahun yang lalu nenek moyang kita sebenarnya telah memasuki zaman nuklir dan telah mampu mengembangkan teknologi dirgantara/aeronautika yang canggih. Bahkan saya pun yakin jika mereka telah berhasil menemukan dan menggunakan peralatan listrik. Mungkin sebagian dari teman-teman menganggap pandanganku ini terlalu imajinatif dan gila. Tapi, jika kita rajin membaca beberapa referensi/sumber yang ada dan sekaligus mau membuka pikiran yang menyumbat ini, niscaya mungkin akan tercerahkan.
Sudah terlalu banyak informasi yang kita dapatkan mengenai mesin-mesin terbang masa silam seperti ini. Mulai dari catatan kitab suci di daratan India hingga ke wilayah Benua Amerika. Info-info itupun dipertegas dengan temuan-temuan arkeologi yang sebagaimana kita ketahui sangat banyak dan tersebar rata dari berbagai penjuru dunia.
Banyak lukisan-lukisan purbakala yang terukir pada Gua, dan umumnya menggambarkan sesuatu yang diluar dugaan kita. Para pelukis-pelukis gua itu menggambarkan sesuatu yang membingungkan, benda-benda terbang yang aneh, lengkap dengan para pengemudinya yang menggunakan helm logam. Apakah mereka menggambarkan secara kebetulan saja dan sesuai dengan imajinasi mereka? saya katakan itu tidaklah mungkin. Sebab lukisan-lukisan ini hampir bisa ditemukan diseluruh wilayah di bumi ini. Mungkin untuk yang satu ini, akan saya uraikan lebih jauh di artikel selanjutnya mengenai "teori astronot kuno" yang dikemukakan oleh beberapa penulis nonfiksi terkenal seperti Zacharia Sitchin, Burak Eldem, Robert K.G.Temple maupun Erich Von Daniken.
Dicopy dari :
http://ada-1.blogspot.com/2007
Nortel PEC Solutions Dukung Sistem Komunikasi Misi Discovery 07.07.2005

Ketika program Pesawat Luar Angkasa Discovery kembali dijalankan pada musim panas ini, jaringan telemetri dan pusat komando misi National Aeronautics and Space Administration (NASA) – yang baru saja diperbaharui oleh Nortel– akan memungkinkan berbagai informasi dan data penting, diakses secara bersama oleh Pesawat Luar Angkasa Discovery, Stasiun Luar Angkasa Internasional dan pusat operasional NASA.
Berbagai data penting NASA ditransmisiskan di seluruh Amerika Serikat dan jaringan komunikasi internasional melalui backbone router Nortel. Untuk mendukung misi pesawat ulang-alik tersebut, jaringan backbone Nortel beroperasi selama 24 jam sehari untuk memastikan tidak adanya gangguan terhadap arus informasi vital. Sistem jaringan yang sama juga mendukung program Rover di Mars, Teleskop Hubble, dan program-program NASA lainnya.
"Nortel PEC Solutions memiliki pengalaman panjang dalam membangun jaringan yang sangat dapat diandalkan," kata Chuck Saffell, president, Nortel Federal Solutions. “Hal ini sudah mendarah daging. Kami sangat bangga memiliki kesempatan untuk menerapkan keahlian kami dalam membantu kembalinya misi Pesawat Ulang-alik NASA. Kolaborasi kami dengan NASA merupakan contoh lain bagaimana Nortel memberikan perhatian khusus untuk mengamankan dan melindungi berbagai informasi terpenting di dunia.”
Selain memegang peranan penting dalam sistem jaringan Misi NASA, Nortel PEC Solutions juga menggunakan Nortel Mobility Solution di Kennedy Space Center, termasuk Nortel Wireless Mesh Network dan platform Operation Support System (OSS) yang disediakan oleh Pronto Networks. Lebih dari 2.500 jurnalis yang akan hadir pada peluncuran tersebut dapat menggunakan jaringan wireless mesh untuk melaporkan penerbangan bersejarah tersebut.
Dengan menggunakan jaringan ini, para reporter yang berada di NASA Press Site seluas enam hektar dapat secara fleksibel menggunakan laptop atau perangkat komputer genggam dengan kemampuan nirkabel mereka untuk mengakses Internet, e-mail, file dan aplikasi lain. Didesain untuk menghadirkan mobilitas bagi pemakai, Wireless Mesh Network memungkinkan para reporter melakukan akses dengan aman dan terus menerus ke jaringan Internet saat mereka berpindah di sekitar area observasi, selain juga meningkatkan produktivitas karena para reporter, agar dapat melaporkan berita secara real-time.
"Solusi Wireless Mesh Network Nortel memungkinkan para jurnalis dari seluruh dunia untuk melaporkan misi bersejarah mengudara kembalinya Pesawat Ulang-alik Discovery," kata Joseph LaMarca, Jr., communications director for The Boeing* Company di Florida dan anggota tim Joint Industry Press Center. "Teknologi baru yang inovatif ini sangat dibutuhkan bagi sebuah press site, dan kami sangat gembira menawarkan kesempatan ini kepada media dari seluruh dunia, berkat dukungan dari Nortel."
"Solusi Wireless Mesh Network Nortel ideal untuk jenis aplikasi ini, karena solusi ini menawarkan jangkauan portable yang lebih luas dan mengoptimalkan efektivitas biaya dari penggunaan teknologi Wi-Fi. Solusi ini menyediakan akses jaringan yang aman dan dapat diandalkan, " kata Lindsay Schroth, senior analyst, Yankee Group. "Orang-orang yang membutuhkan kemampuan untuk dapat tersambung di mana dan kapan pun.”
Solusi Wireless Mesh Network Nortel menggunakan sambungan nirkabel untuk menghubungkan akses poin di daerah terbuka yang luas untuk menyediakan akses bebas hambatan yang aman bagi layanan pita lebar nirkabel. Solusi ini didesain untuk memungkinkan perusahaan atau organisasi lain memasang Wireless Local Area Networks (LANs) di daerah-daerah yang sulit dijangkau atau terlalu mahal bila menggunakan sambungan kabel.
Bersama dengan solusi mobilitas Nortel, platform OSS Pronto Networks yang terintegrasi penuh memungkinkan jaringan nirkabel yang lengkap untuk 'go live' hanya dalam waktu beberapa hari. Kapabilitas kunci Pronto Networks yang digunakan dalam pemasangan jaringan ini termasuk teknologi dalam hal registrasi pemakai jaringan, verifikasi, pengelolaan pelanggan jaringan, system penagihan yang fleksibel, penyesuaian portal yang dimiliki pelanggan, dan pengelolaan jaringan dari jarak jauh. Pronto Networks menyediakan semua layanan back-office untuk jaringan nirkabel dari pusat pengolahan data Pronto Networks di San Jose, California.
artikel dapat dilihat pada http://www.sda-indo.com
Pesawat Terbang Ternyata Sudah Ada Sejak 200SM


Gambar-gambar di atas ditemukan pada balok atas penyangga langit-langit sebuah ruangan kuil kerajaan Mesir Kuno, yang lokasinya berada di Abydos, beberapa ratus mil sebelah selatan Kairo dan plato Giza. Objek-objek pada gambar tersebut, dilihat dari perlengkapan fisiknya adalah pesawat yang dioperasikan di dalam lapisan berudara seperti di permukaan bumi, bukan untuk ruang angkasa yang hampa udara. Karena itu digunakan sayap samping dan ekor serta baling-baling. Kuil Abydos ini dibangun untuk Dewa Osiris oleh firaun Mesir kuno, Seti I (1306-1290 SM) dan diselesaikan oleh penerusnya, Ramses II

Replika pesawat yang ditemukan dari masa peradaban Mesir Kuno,diliahat dari bentuk arsitekturnya sudah mirip sama pesawat terbang jaman sekarang yah...
Selain itu pada 1898, dari sebuah makam kuno di Saqquara, Mesir, yang diperkirakan dibuat pada 200 SM, juga telah ditemukan sebuah replika pesawat yang formatnya mirip dengan pesawat terbang modern. Benda ini kini disimpan di Museum Kairo, Mesir.

Sketsa rancangan pesawat terbang pada masa peradaban Mesir Kuno
Dari China dilaporkan bahwa telah ditemukan beberapa buah dokumen sanskrit di Lhasa, Tibet dan lalu dibawa ke Universitas Chandrigargh untuk diterjemahkan. Dr. Ruth Reyna dari Universitas itu menjelaskan bahwa dokumen tersebut ternyata berisi petunjuk untuk membuat pesawat luar angkasa. Cara-cara pembuatan mereka, katanya, adalah anti-gravitasi dan berasaskan kepada satu sistem analog yaitu “laghima”, satu sumber tenaga yang tidak diketahui oleh manusia modern. Menurut ahli Yoga Hindu, “laghima” ini menjadikan seseorang itu mempunyai kemampuan untuk terbang.
Dokumen sanskrit kuno juga menyebutkan bahwa, Maharaja India, Ashoka telah membentuk sebuah kelompok “Sembilan Lelaki Misterius” yang terdiri atas para ilmuwan terkenal India yang dikatakan mengkatalogkan berbagai jenis sumber-sumber sains. Ashoka telah merahasiakan kerja-kerja mereka semua karena ia merasa bahwa penemuan ilmiah yang terbaru itu akan terpasung dari sumber India kuno itu sendiri dan justru bisa jadi akan disalahgunakan bagi tujuan peperangan yang kejam, yang mana tidak diinginkan oleh Ashoka sendiri. “Sembilan lelaki misterius” telah menulis sembilan buah buku yang saling berkaitan antara satu sama lain, bertajuk “Rahasia-rahasia Gravitasi”. Mereka menyebut kendaraan angkasa tersebut dengan Vimana / Astras. China menyatakan akan mempelajari lebih lanjut dokumen tersebut untuk program kajian angkasanya.
Waw,Klo begitu berarti jauh-jauh sebelum Wright Bersaudara menciptakan pesawat Terbang,Peradaban-Peradaban zaman dulu,seperti Mesir Kuno,Sumeria,Yunani Kuno dan mungkin Atlantis telah mengenal alat transportasi tersebut dong?.Pantesan,dari bermacam-macam buku yang aku baca, mengenai peradaban Atlantis yang menghilang,dikisahkan memang pada masa itu Teknologinya sudah maju,walaupun dari segi arsitektur teknologinya masih lebih modern sekarang. Tapi pengenalan terhadap macam-macam benda semacam Lemari Es,dll talah ada sebelumnya.hebat yah...
Sumber:
Childress, David Hatcher. The Anti-Gravity Handbook. Adventures Unlimited Press: 1985.
Langganan:
Postingan (Atom)